Suatu hari sebuah band Indo baru rilis, saat mendengarkan lagunya, sebuah komunitas berseru, "Huu alay tuuh", "bisanya cuma tiru-tiru doank", "najis, maho, alay", "band gak kualitas, gak mutu, apa tuh?". Dan berbagai caci, maki, dan kutukan.Seperti komen di sebuah halaman Youtube yang usernya mengupload video kelompok boyband yang terlihat sangat mirip dengan boyband asia (Korea & Jepang). Tidak hanya caci dan maki, bahkan sumpah serapah dan kutukan pun bertubi kepada grup band di video clip tersebut.
Jaman sekarang ini, bagaimanakah menilai kualitas suatu produk?
Sepertinya kita tidak bisa menilai kualitas suatu produk dari kuantitas pangsa pasarnya saja. Apabila sebuah produk baru keluar, namun kualitas produk tersebut ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Namun, bagaimana kalau konsumennya berjumlah mayoritas dan mereka mengatakan kalau produk tersebut bagus dan mereka menyukainya bahkan memintanya lagi lagi dan lagi.
Produknya mungkin terlihat buruk dan mutunya juga sangat standar, namun pangsa pasarnya sangat luas dan repeat ordernya tinggi. Analoginya ibarat jualan, antara mobil Ferrari dan sebungkus mie instan, tentu yang nomor satu paling cepat laku adalah sebungkus mie instan.
Mie instan hanya membutuhkan kuantitas pangsa pasar
sedangkan mobil mewah membutuhkan kualitas pangsa pasar
Mie instan dapat dibeli oleh siapa saja
sedangkan mobil mewah hanya dapat dibeli oleh golongan tertentu
Begitu halnya dengan belantara musik pop dan boyband lokal jaman sekarang. Pengusaha rekaman menjual mana yang musik yang lebih cepat laku di pasaran dan dapat dinikmati oleh mayoritas lapisan masyarakat.