Thursday, January 13, 2011

Inilah Opera Sabun Modern

Industri acara televisi di tanah air tercinta ini yang paling produktif adalah industri Sinema Elektronik yang akrab disebut Sinetron.

Kenapa Sinetron? Balik lagi, kalau bicara masalah produktifitas di tanah air ini, kebanyakan mengacu kepada kuantitas ketimbang kualitas.

Ketimbang kualitas acara, produser dan rumah produksi lebih memilih kuantitas, artinya acaranya mungkin biasa saja, tetapi jumlah pemirsanya lebih banyak otomatis menaikkan rating, dan itulah acara yang akan diproduksi.

Dan, inilah Sinetron Indonesia.

Alur ceritanya selalu sama, cewek jatoh cinta ke cowok atau sebaliknya cowok jatoh cinta ke cewek (selama ini belom ada sinet maho cowok jatoh cinta ke cowok). Kemudian datanglah tokoh antagonis, si orang ketiga yang akan selalu menghalangi hubungan cinta mereka dan selalunya si cewek malang yang tiap episodenya selalu banjir air mata. Baru muncul dah nangis, baru dialog ngomong, nangis lagi, sebelom jeda iklan, nangis lagi. Nangis nangis nangis aja dah pokoknya (kayanya gampang tuh audisi jadi bintang sinet Indo: 1. Jago nangis).

Tokoh antagonisnya, selalu cewek cantik-cantik tapi judes, cantiknya juga gak cantik amat sih, cuma sekedar polesan makeup menor tante gembira. Atau tokoh ibu mertua, yang tua dan lebih judes lagi, jurus ampuhnya adalah tatapan tanpa bayangan, matanya bisa melotot picing melotot picing, bagai lampu dekat-lampu jauh lampu dekat-lampu jauh.

Ya, karakter antagonisnya mayoritas selalu cewek...   dan korbannya cewek pula..

Lalu, di mana karakter protagonisnya???

Karakter protagonisnya selalu cowok.

Pria-pria modelan pangeran complexnya Cindelorot modern, kaya dan siap mewarisi istana keluarga besarnya. Namun, seringkali tidak punya pendirian sehingga selalu diatur oleh keluarganya. Dialognya seringkali menjerit dalam hati tentang dilema batinnya.

Ending ceritanya?

Sudah dapat ditebak, they live happily ever after. Tokoh cewek dan cowok jadian, penyelesaian masalahnya sepele, dan tau tau tokoh antagonisnya tiba-tiba jadi baek. Walhasil, lagu lebay berkumandang, penonton nangis guling-guling.