MINGGU 5 Agustus
2018, kembali Lombok diguncang gempa, yang kali ini menurut berita yang awalnya
beredar, gempa tersebut berpotensi tsunami. Namun, setelah diklarifikasi
kembali oleh update press release laporan BMKG, bahwa laporan potensi tsunami tersebut
secara resmi dicabut oleh BMKG.
Namun demikian,
kejadian tanggal 5 Agustus 2018 kemarin itu mungkin tidak akan kami lupakan
seumur hidup.
Adapun lokasi
tepatnya gempa ini berada di lereng utara timur laut Gunung Rinjani pada jarak
18 kilometer arah barat laut Lombok Timur pada kedalaman 15 kilometer.
Gempa kali ini
benar-benar mengguncang kami, pasalnya kami merasa begitu dekat dengan
epicenter gempa.
Kejadian pada malam
tanggal 5 Agustus kemarin adalah sebagai berikut:
Sore itu, saya tiba
di rumah kurang lebih sebelum magrib, dan saya masih bekerja di laptop sampai
sekitar lepas adzan Isya mungkin sekitar jam 19:20.
Tiba-tiba gempa
pertama dirasakan.
Pertama-tama saya
berusaha tenang saat merasakan goyangan, saya melihat tembok rumah dan langit-langit
hanya bergoyang kecil, tidak ada nampak retakan-retakan. Namun, tidak lama
dalam sekejap guncangan itu membesar dan listrikpun padam seketika. Sehingga
kami diguncang begitu lamanya dalam gelap gulita.
Saya berdiam diri
di depan rumah, namun saat itu saya tidak dapat melihat apapun karena seluruh
penerangan dan listrik padam. Saya hanya dapat mendengar teriakan tetangga dan
tangis jerit anak bocah. Tentu saja kala itu semua orang nampak kaget dan
panik.
Saya rasa Gempa
terjadi sekitar 40 detikan.
Sesaat setelah
goyangan usai, semua orang nampak berkumpul di lapangan depan rumah
masing-masing.
Namun, kepanikan
ternyata tidak berhenti sampai di sana, ada yang datang dan berteriak-teriak
kalau air laut sudah naik. Akan ada tsunami, semua orang dihimbau untuk
mengungsi ke dataran tinggi.
Segera saja situasi
menjadi kacau, karena orang berebutan untuk keluar rumah dan mengungsi. Jalan
raya arah ke timur menjadi macet dan dipenuhi para pengungsi yang panik.
Saya sempat keluar
rumah dan berusaha menghubungi Ibu dan Adik saya, kemudian Istri saya.
Syukurnya mereka semua baik-baik saja.