Monday, August 6, 2018

RONDE GEMPA SUSULAN LOMBOK 5 AGUSTUS 2018 - PART I


MINGGU 5 Agustus 2018, kembali Lombok diguncang gempa, yang kali ini menurut berita yang awalnya beredar, gempa tersebut berpotensi tsunami. Namun, setelah diklarifikasi kembali oleh update press release laporan BMKG, bahwa laporan potensi tsunami tersebut secara resmi dicabut oleh BMKG.

Namun demikian, kejadian tanggal 5 Agustus 2018 kemarin itu mungkin tidak akan kami lupakan seumur hidup.

Adapun lokasi tepatnya gempa ini berada di lereng utara timur laut Gunung Rinjani pada jarak 18 kilometer arah barat laut Lombok Timur pada kedalaman 15 kilometer.

Gempa kali ini benar-benar mengguncang kami, pasalnya kami merasa begitu dekat dengan epicenter gempa.

Kejadian pada malam tanggal 5 Agustus kemarin adalah sebagai berikut:

Sore itu, saya tiba di rumah kurang lebih sebelum magrib, dan saya masih bekerja di laptop sampai sekitar lepas adzan Isya mungkin sekitar jam 19:20.

Tiba-tiba gempa pertama dirasakan.

Pertama-tama saya berusaha tenang saat merasakan goyangan, saya melihat tembok rumah dan langit-langit hanya bergoyang kecil, tidak ada nampak retakan-retakan. Namun, tidak lama dalam sekejap guncangan itu membesar dan listrikpun padam seketika. Sehingga kami diguncang begitu lamanya dalam gelap gulita.

Saya berdiam diri di depan rumah, namun saat itu saya tidak dapat melihat apapun karena seluruh penerangan dan listrik padam. Saya hanya dapat mendengar teriakan tetangga dan tangis jerit anak bocah. Tentu saja kala itu semua orang nampak kaget dan panik.

Saya rasa Gempa terjadi sekitar 40 detikan.

Sesaat setelah goyangan usai, semua orang nampak berkumpul di lapangan depan rumah masing-masing.

Namun, kepanikan ternyata tidak berhenti sampai di sana, ada yang datang dan berteriak-teriak kalau air laut sudah naik. Akan ada tsunami, semua orang dihimbau untuk mengungsi ke dataran tinggi.

Segera saja situasi menjadi kacau, karena orang berebutan untuk keluar rumah dan mengungsi. Jalan raya arah ke timur menjadi macet dan dipenuhi para pengungsi yang panik.

Saya sempat keluar rumah dan berusaha menghubungi Ibu dan Adik saya, kemudian Istri saya. Syukurnya mereka semua baik-baik saja.