Mengingat kejadian
Gempa tanggal 29 Juli kemarin.
Lombok kami
tercinta dilanda bencana, gempa 6.4 SR mengguncang Lombok bagian Timur dan
Utara. Berdasarkan data BMKG pusat gempa disinyalir berada 28 Km Barat Laut
Lombok Timur, namun demikian syukurnya, Gempa ini tidak berpotensi Tsunami.
Daerah yang paling
banyak terkena dampak adalah Lombok Utara sekitaran Senaru Bayan dan Lombok
Timur daerah Kecamatan Sambelia.
Syukurnya Lombok
Barat dan Kota Mataram masih aman. Biarpun demikian, kejadian gempa ini menjadi
perhatian dunia, karena tidak sedikit wisatawan yang sedang mendaki gunung Rinjani
pun juga turut merasakan dampaknya, banyak media memberitakan bahwa ada longsor
setelah gempa susulan yang memblokir jalan di daerah pendakian, sehingga harus
dilakukan evakuasi untuk para pendaki.
Sebuah bencana
alam, bisa menjadi hikmah tersendiri bagi kehidupan kita.
Bencana alam itu
tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bisa jadi ia kita anggap sebuah
bencana, atau bisa juga kita anggap sebuah teguran, bagaimana cara alam
berkomunikasi dengan kita.
Mungkin sesekali
kita harus mendengarkan apa yang selama ini ia pendam.
Alam berbicara
dengan kita dengan komunikasi dua arah. Kita bisa membalas komunikasi tersebut
dengan menunjukkan bahwa kita SURVIVE.
Kita adalah hamba
Tuhan yang kuat.
Dengan cara apa
kita bisa SURVIVE?
Tentu dengan uluran
tangan sesama manusia.
Uluran tangan yang
saling menyambung menjadi satu adalah rantai baja paling kuat di alam semesta
dan tidak ada kekuatan apapun di dunia yang dapat memutuskan rantai baja
tersebut.







