Ketika mata bisa ditipu, hati memiliki nurani yang dapat melihat dengan sejelas-jelasnya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Ketika telinga bisa ditutup, lubuk hati dapat merasakan suara yang tak terdengar oleh telinga manapun.
Ketika lidah dapat berbohong, suara hati tidak pernah menyuarakan kebohongan, walaupun dia tidak punya lidah untuk mengucapkannya, walau dia hanya dapat berteriak dari dalam dada berusaha menyuarakan kebenaran yang sesungguhnya.
Coba kamu pikir, pernahkah hatimu dapat berkata bohong seperti yang lidahmu dapat lakukan? Dapatkah nurani mu berdusta walau nafsu mu bertindak lain?
Dapatkah lubuk hatimu menutup pendengarannya, walau telinga mu kau tutup rapat-rapat?
Sesungguhnya kita tetap manusia yang dikaruniai akal, budi dan pikiran oleh Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Hanya saja, kita selalu mendengarkan bisikan syaitan yang terkutuk untuk mengikuti kehendak nafsu kita.
Selepas Ramadhan ini apakah kita tetap bisa menjadi manusia yang terus berusaha menahan cobaan? Terkadang dosa sering kita lakukan walau kita tahu itu tidak benar, syaitan terus mengguncang iman kita. Apakah kita sebagai manusia sanggup berjuang memakai karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk melawan hawa nafsu kita?
Sebagai umat muslim dan juga selaku manusia biasa, saya pun hanya dapat menjawab, asalkan kita terus berusaha yang terbaik, Insya Allah.