Sunday, April 26, 2020

Di Mana Rumahku

Hidup butuh keseimbangan, begitulah yang selalu dikatakan banyak orang.

Tahun 2017 lalu, gue pernah menulis mengenai kerinduan akan suasana Ibu kota.

Seperti halnya yang gue rasakan kembali sekarang.

6 Tahun gue hidup dengan pasir pantai dan udara laut, tiba-tiba kangen juga sama klakson bis ibu kota. Kangen juga sama masa-masa antre busway, menikmati senja di kolong jembatan gantung atau di kedai-kedai kopi terminal, kangen juga lihat lampu-lampu ibu kota di malam hari. Ya, kota besar emang enaknya dinikmati di malam hari.

Ada kalanya gue berasa pengen menikmati sesaat masa-masa itu kembali.

Hidup gue di Lombok rasanya seperti sebuah liburan panjang, tetapi kalau liburan terus kan lama-lama bosan juga, ada waktunya di mana kita inget sama rumah, dan ketika jauh dari yang namanya rumah itu baru berasa bahwa kita butuh sosok rumah untuk kembali.

6 Tahun hidup di Lombok, gue belum berasa tempat ini sebagai "rumah". Gue masih merasa kalau gue pendatang di tempat ini, dan tibalah hari ini gue berasa ternyata gue jauh dari "rumah". Gue terbangun dan menyadari, kalau gue lelah, gue ingin pulang dan beristirahat sejenak.

Begitu banyak hal yang telah gue tinggalkan di Ibu kota, begitu banyak hal yang enggak pernah bisa gue jemput lagi, begitu banyak kehilangan yang telah gue alami.

Apakah aku bisa kembali ke Ibu kota...

Tuesday, December 4, 2018

Manusia Adalah Mahkluk Sosial

Pastinya semua setuju donk dengan judul di atas, bahwa manusia adalah mahkluk sosial, manusia sewajarnya butuh kehidupan sosial, butuh bermasyarakat, ada kebutuhan untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Saya ingat waktu menonton film "Cast Away" yang diperankan oleh Tom Hanks sebagai Chuck Noland, saking kesepiannya si tokoh Chuck Noland dia sampai menjadikan sebuah bola Voli sebagai temannya yang ia beri nama "Wilson", di film tersebut Noland terlihat mengobrol, curhat bahkan sampai berkelahi dan baikan lagi. Dan terlihat betapa sedihnya Chuck Noland ketika terpisah dengan Wilson karena Wilson tersapu ombak sewaktu mereka terapung-apung di laut.


(Btw, ini bukan spoiler ya, karena film ini sudah lama banget ini film tahun 2000an kalau saya tidak salah)

Adegan dalam film tersebut memperlihatkan interaksi kebutuhan manusia akan kehidupan sosial, dalam pertemanan kadang kita baik, kadang ada kalanya kita berkelahi mungkin karena perbedaan pendapat, kejadian emosional atau entah faktor lainnya, kemudian baikan lagi, itu semua hal yang wajar dan lumrah dan memang harus terjadi dalam sebuah kehidupan bermasyarakat.

Begitu pula lah yang saya alami dalam kehidupan saya.

Kembali kepada film "Cast Away" itu, akhir-akhir ini saya ga sengaja kembali dipertontonkan film ini lewat jaringan TV Berlangganan, entah kenapa saya jadi terpaku nonton film ini sampai 3x diulang saya masih nonton lagi dari awal sampai akhir. Saya sendiri enggak tau kenapa, entah karena ga ada film lain yang menari di channel lain atau emang saya lagi pengen aja nonton film ini setelah sekian lama.

Tapi film ini jadi membuat saya merenung, saya baru menyadari kalau sekarang ini saya sedang kesepian, saya merasa kehilangan.

Kehilangan masa lalu.

Dan, yang lebih saya rasakan hilang adalah...

Pertemanan...

Ya, pertemanan yang baik,

sosok seorang sahabat,

seorang partner in crime,

sosok orang yang selalu siap side by side,

bertempur dan bertarung bersama.


Ya, saya hampir lupa bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat seperti dulu.

Setelah perpisahan kami sewaktu saya memutuskan untuk meninggalkan ibu kota, semenjak itu, kami tidak lagi fighting side by side, kami berjalan di jalan hidup kami masing-masing, hingga sekarang, aku tidak pernah lagi menemukan sosok pertemanan seperti dirinya.





Kutulis untuk sahabatku 1000 kilometer di seberang.
Akang Cahyadi.

Thursday, October 18, 2018

Aku Ingin Pindah Lagi

Tidak terasa sudah cukup lama rasanya gue tinggal di Lombok, dari akhir tahun 2011 hingga hari ini.

Begitu banyak pengalaman dan cerita-cerita menarik, banyak hal yang telah gue lalui, gue alami bersama teman-teman baru.

Namun, sekarang, tahun ini, entah kenapa rasanya kejenuhan mulai mendatangi gue. Kehidupan gue bagaikan urutan sebuah mimpi, semua diawali dengan mimpi yang indah, hingga tabir kegelapan menyeruak dan menyelimuti mimpi indah tersebut dan merubahnya menjadi mimpi buruk.

Kenangan-kenangan indah hanyalah kejadian satu kali seumur hidup, pertemanan, persahabatan tidak pernah menjadi sesuatu yang abadi. Kejadian-kejadian buruk selalu terjadi berulang kali setelahnya.

Sepertinya gue sudah bosan dengan kehidupan dan yang lingkungan yang gue jalani sekarang. Lembaran putih yang gue mulai di tahun 2011 itu sekarang sudah menjadi hitam kotor dan penuh coretan ga jelas. Hidup gue mulai berantakan ga tentu arah.

Gue terus merenung dan berpikir, apa yang terjadi pada gue akhir-akhir ini?

Setelah lama berpikir, akhirnya sekarang gue tau apa yang gue inginkan.

Gue ingin pindah, gue ingin mencari kehidupan baru, suasana baru, lingkungan baru dan tentunya orang-orang baru. I want a fresh new start.

Gue ingin memulai segalanya dari awal dan lebih baik lagi.

Gue ingin tinggalkan semua kenangan buruk yang gue alami di Lombok ini.

Saturday, October 6, 2018

Komoditi Adalah Uang Yang Sesungguhnya

Komoditi adalah uang yang sesungguhnya.

Mengapa kita sulit untuk menjadi kaya?
Karena kita tidak mengetahui keberadaan uang yang sesungguhnya.

Orang miskin, hanya memikirkan uang kertas yang ada di sakunya saja
Sedangkan orang kaya, mereka memikirkan komoditi apa yang dapat menciptakan uang, komoditi yang memiliki nilai tukar untuk menghasilkan uang. Orang kaya memikirkan cara untuk menghidupkan ekonomi.

Orang miskin sibuk untuk memeras tenaga demi mendapatkan bayaran agar uang kertas dapat masuk ke saku mereka.
Sedangkan, orang kaya, sibuk memeras tenaga dan pikiran untuk mencari dan memanfaatkan modal agar dapat memiliki dan berniaga melakukan “supply” komoditi yang memiliki nilai “demand”, sehingga dari sana terciptalah ekonomi.

Bagi orang kaya, uang kertas bukanlah sumber kekayaan utama, karena mereka menyadari bahwa nilai uang kertas bukan pada nominal angka yang tercetak di atasnya. Nominal hanyalah nilai tukar yang berlaku sesuai dengan kondisi ekonomi pada saat itu.

Pernahkah kalian membayangkan, pada tahun 1996, apa saja yang bisa kalian beli dengan uang Rp100.000? Dengan uang segitu, saya sudah bisa belanja bulanan dengan mewah, tetapi, apa yang terjadi di tahun 2018 dengan uang Rp100.000 ? Kalian sudah tahu sendiri jawabannya.

Jadi, kesimpulannya, kunci untuk menjadi kaya adalah, ciptakan ekonomi, hidupkan perniagaan, pelajari komoditi yang menghasilkan uang, kuasai dengan baik “supply” dan “demand”. Kamu harus mencari, uang yang sesungguhnya itu berada di mana, lupakan banyaknya uang kertas yang ada di saku mu, kamu harus tahu modal itu mau kamu bawa ke mana.

Otherwise, uang mu hanya akan menjadi uang kertas saja yang nominalnya semakin hari semakin berkurang dan seiring berjalannya inflasi, angka-angka besar yang ada pada lembaran-lembaran itu akan semakin tidak bernilai.

Wednesday, August 15, 2018

Waktunya Buka Usaha Sendiri


Tiba-tiba terpikir ingin buat usaha sendiri.
Kalau dipikir-pikir status gue selama ini kan buruh swasta, nah, buruh swasta itu adalah posisi pekerjaan yang paling riskan masa pensiunnya, pasalnya kita enggak punya jaminan pensiun kalau kagak pintar-pintar nabung atau bikin investasi hari tua dari sekarang.

Contohnya ya ketika masa-masa pasca gempa begini, buruh swasta macam kita yang perusahaannya lagi tutup, karena kerusakan aset, tentu saja jadinya kita nganggur. Otomatis kalau menganggur gini, pilihan terburuk adalah istilah “dirumahkan”, artinya dibebas tugaskan hingga masa yang belum dapat ditentukan, minimal sampai perusahaan pulih kembali baru ditugaskan lagi.

Tapi dalam masa-masa pemulihan seperti itu, apakah karyawan atau buruh yang dirumahkan itu masih mendapatkan bayaran, atau gaji?

Nah, dalam kondisi seperti ini, kenapa gue baru kepikiran kalau gue musti punya sumber pemasukan lain, seperti buka usaha. Beberapa tahun lalu gue emang rencana mau buka usaha apa gitu di Lombok ini, hanya aja belum kesampaian.

Mulai mikir, langkah selanjutnya.

PRESS RELEASE Lombok Sudah Aman


Setelah diguncang gempa semenjak 29 July, hingga puncaknya pada tanggal 5 Agustus lalu, dan juga gempa-gempa susulan.

Akhirnya per tanggal 12 Agustus, Gubernur Nusa Tenggara Barat mengeluarkan press release bahwa pulau Lombok sudah dinyatakan sudah aman kembali untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Namun demikian, pekerjaan kita masih banyak.

Hingga hari ini masih banyak warga yang dirubung ketakutan akan gempa susulan, walaupun pihak BMKG sudah mengeluarkan pernyataan kalaupun gempa susulan akan terus terjadi tetapi dengan skala kecil. Masih banyak warga yang trauma untuk kembali ke dalam rumah, dan memilih untuk nyaman di pengungsian.

Trauma healing jadi pekerjaan berikutnya untuk mengembalikan kembali mental masyarakat.

Mengingat letak geografis pulau Lombok yang merupakan kawasan seismik aktif, Lombok memang berpotensi diguncang gempa. Masyarakat harus lebih dipersiapkan untuk menghadapi tantangan alam ini.




Friday, August 10, 2018

KEMBALI DIGUNCANG GEMPA SUSULAN - LOMBOK 6.2 SR


LOMBOK (9 Agustus 2018) kembali diguncang gempa dengan kekuatan 6.2 SR yang terjadi sekitar pukul 13:25 WITA.

Dilaporkan di berbagai sumber media, kalau terdapat lebih banyak lagi bangunan runtuh, baik property milik warga maupun infrastruktur umum. Dilaporkan juga Bertambahnya jumlah korban jiwa akibat dari gempa susulan ini juga.

Sebuah video viral menampilkan rubuhnya bangunan sebuah minimarket di daerah Mataram Kota.


Syukurnya dilaporkan tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut.

Monday, August 6, 2018

PARIWISATA HIGH SEASON MENGALAH DULU YA

Detik.com

BICARA soal Pariwisata, sepertinya enggak melulunya kita ngomongin soal glamorisasi dunia liburan. Ada kalanya, glamor pariwisata itu harus mengalah pada alam, tidak peduli istilah high season, akhirnya ketika alam berbicara, high season pun harus mengalah.

Gempa Lombok ini adalah sebuah hikmah yang bisa kita renungkan, sederet cobaan mendera pulau Lombok mulai dari ombak besar, menyambung kejadian Gempa, dan yang baru saja terjadi 5 Agustus kemarin.

Pasca gempa, segalanya terasa dampaknya.

Kota Mataram hari ini 6 Agustus 2018 langsung mati total, pusat perbelanjaan dan aktifitas sehari-hari semua tutup.

Terutama pelaku usaha pariwisata terpaksa harus bersabar, semua hotel di daerah Mataram shut down total. Pulau primadona Tiga Gili (Gili T, Gili Meno dan Gili Air) juga terpaksa harus ditutup dan semua tamu dievakuasi.

Proses evakuasi dari pulau kecil tersebut tentunya bukan hal yang mudah.

Kalaupun pasca trauma telah berlalu, Hotel-hotel yang banyak yang menderita kerusakan, tentu saja harus direnovasi supaya bisa kembali layak huni. Dan proses untuk mengembalikan trauma pariwisata tentu butuh waktu.

Lupakan Revenue High Season, sekarang ini syukuri dulu untuk bisa pulih dulu tanah NTB tercinta ini.


KEJADIAN GEMPA LOMBOK 5 AGUSTUS 2018

Arsip Liputan 6
Arsip Foto-foto

Pengungsi di atas bukit Gili Trawangan

Karyawan salah satu hotel di Gili Air tidur di pinggir pantai antisipasi gempa susulan

Proses Evakuasi Gili Trawangan

Boat Evakuasi Gili Trawangan

Proses Evakuasi Gili Trawangan

RONDE GEMPA SUSULAN LOMBOK 5 AGUSTUS 2018 - PART II

Pasca gempa, syukurnya gue bisa ketemu sama Ibu dan Adik gue, kita berhasil berkumpul di rumah gue di Puri Meninting. Kemudian kita merencanakan kalau kita mau mengungsi terkait berita adanya isu potensi tsunami. Tapi masalahnya Bini gue masih nyangkut di Lapangan UD Rembiga, akhirnya gue putuskan untuk jemput dia dulu. Nyokap dan Adek gue naik mobil gue suruh pergi duluan ke bukit Pusuk.


Kita jalan pelan-pelan, karena jalanan super macet, mobil semua antre mau mengungsi ke arah dataran tinggi.

Gue naik motor sampai di Rembiga, tiba-tiba rencana kita berubah, kita pikir mendingan kita mengungsi ke tengah kota aja. Akhirnya tujuan kita berubah ke arah Mataram Mall.

Gue berhasil Rendevouz dengan Bini gue dan keponakan kita yang cewek namanya Dewi. Langsung kita ngacir ke Mataram Mall. Gue sempat isi bensin di Mataram Mall, dan itu antre nya luar biasa, untungnya gue dapat isi full tank.

Akhirnya kita semua berkumpul di Mataram Mall, gue, Nyokap, Adik, Bini dan si Dewi. Di sana kita istirahat sejenak, ngatur nafas dan mikir mau ke mana. Di kepala kita masih muter-muter pertanyaan ini sebetulnya benar ga isu tsunami, ternyata petugas Polisi Mataram keliling dan buat pengumuman kalau isu tsunami udah dicabut sama BMKG.

Setelah itu kita memutuskan untuk pulang dan berkumpul di rumah gue di Puri Meninting.

Malam itu, kita begadang, bengong berjaga-jaga karena masih ada potensi gempa susulan. Semua tidur di teras depan rumah gue.


Next day, Mataram City all shut down. Kagak ada toko-toko yang buka, semua tutup. Aktifitas kota Mataram lumpuh total. Banyak yang pulang ke kampung masing-masing karena ada yang rumahnya jadi korban gempa juga.

Syukurnya rumah gue masih menjadi tempat kami berlindung, sekarang semua keluarga gue kumpul di rumah gue. Listrik masih bisa support, hanay terkadang mati sebentar, tetapi kami sempat untuk mengisi baterai HP dan menyalakan TV untuk melihat berita.

Sementara gue sendiri dan Adik gue masih belum bisa masuk kerja, karena Gili juga ditutup total. Sampai saat tulisan ini dibuat, proses evakuasi tiga Gili di KLU masih dalam proses.